PERUBAHAN PADA SISTEM SARAF

Posted: Juli 17, 2011 in Keperawatan Gerontik

BAB I

PENDAHULUAN

Manusia mengalami berbagai perubahan fisik dan psikologis melalui pertumbuhan dan maturitas. Perubahan neurologis bergantung pada factor genetika, sosioekonomi, harga diri, dan social. Walaupun terdapat beberapa catatan tentang efek penuaan pada system saraf, banyak perubahan dapat diperlambat atau dikurangi melalui suatu gaya hidup sehat. Selain masalah penurunan system neurologis masalah yang sering dialami oleh lansia juga adalah masalah penurunan sensoris, yang berhubungan dengan perubahan normal akibat penuaan. Perubahan ini tidak terjadi pada kecepatan yang sama atau pada waktu yang sama atau pada waktu yang sama untuk semua orang dan tidak selalu jelas dan dramatis. Perubahan sensoris dan permasalahan yang dihasilkan mungkin merupakan factor yang turut berperan paling kuat dalam perubahan gaya hidup yang bergerak kearah ketergantungan yang lebih besar dan persepsi negative tentang kehidupan. Jadi dengan memandang proses penuaan dari prespektif yang luas dapat membimbing kearah strategi yang lebih kreatif untuk melalukan intervensi terhadap lansia.

Untuk menjaga agar penurunan fungsi tidak terjadi secara cepat pada lansia dapat dilakukan pencegahan primer, sebagai salah satu cara dalam memelihara gaya hidup yang sehat, ini merupakan suatu tantangan yang penting bagi perawat dan para professional pelayanan kesehatan lainnya.

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Penuaan Pada Sistem Neurologis

Lansia menagalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penuaan menyebabkan penurunan persepsi sensorik dan respon motorik pada susunan saraf pusat dan penurunan reseptor proprioseptif. hal ini terjadi karena susunan saraf pusat pada lansia mengalami perubahan morfologis dan biokimia. (Sri Surini Pudjiastuti,Budi Utomo, 2003, hal : 11) Struktur dan fungsi system saraf berubah dengan bertambahnya usia. Berkurangnya massa otak progresif akibat berkurangnya sel saraf yang tidak bisa diganti. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001, hal: 179)

Perubahan structural yang paling terlihat terjadi pada otak itu sendiri, walaupun bagian dari system saraf pusat (ssp) juga terpengaruh.perubahan ukuran otak yang diakibatkan oleh atrofi girus dan dilatasi sulkus dan ventrikel otak. Korteks cerebral adalah daerah otak yang paling besar dipengaruhi oleh kehilangan neuron. Penurunan aliran darah cerebral dan penggunaan oksigen dapat pula terjadi dengan penuaan.

Perubahan dalam system neurologis dapat termasuk kehilangan dan penyusutan neuron, dengan potensial 10% kehilangan yang diketahui pada usia 80 tahun. Distribusi neuron kolinergik, norepinefrin, dan dopamine yang tidak seimbang, dikompensasi oleh hilangnya sel-sel, menghasilkan sedikit penurunan intelektual. Namun parkinsonisme ringan mungkin dialami ketika reseptor penghambat dopamine dipengaruhi oleh penuaan. Peningkatan kadar monoamine oksidase dan serotonin dan penurunan kadar norepinefrin telah diketahui, yang mungkin dihubungkan dengan depresi pada lansi. Perubahan-perubahan ini menunjukkan variasi yang luas diantara individu-individu.

Penurunan dopamine dan beberapa enzim dalam otak pada lansia berperan terhadap terjadinya perubahan neurologis fungsional. Kehilangan jumlah dopamine yang lebih besar terjadi pada klien dengan penyakit Parkinson. defisiensi dopamine mengakinbatkan ganglia basalis menjadi terlalu aktif, sehingga menyebabkan terjadinya bradikinesia, kekakuan, dan hilangnya mekanisme postural yang sering dilihat pada mereka yang menderita penyakit Parkinson.

Secara fungsional, mungkin terdapat suatu perlambatan reflex tendon profunda. Terdapat kecenderungan kearah tremor dan langkah yang pendek-pendek atau gaya berjalan dengan langkah kaki melebar disertai dengan berkurangnya gerakan yang sesuai. Peningkatan tonus otot juga diketahui, dengan kaki yang lebih banyak terlibat dengan lengan, lebih kearah proksimal daripada distal. Selain itu penurunan kekuatan otot juga terjadi, dengan kaki yang menunjukkan kehilangan yang lebih besar lebih kearah proksimal daripada distal. Penurunan konduksi saraf perifer mungkin dialami oleh klien. Walaupun  reaksi menjadi lebih lambat, dengan penurunan atau hilangnya hentakan pergelangan kaki dan pengurangan reflex lutut, bisep dan trisep, terutama karena pengurangan dendrite dan perubahan pada sinaps, yang memperlambat konduksi.

Perubahan fungsional termasuk penurunan diskriminasi rangsang taktil dan peningkatan ambang batas nyeri. Hal ini khususnya dapat secara nyata pada perubahan baroreseptor. Namun, perubahan pada otot dan tendon mungkin merupakan  factor yang memiliki konstribusi lebih besar dibanding dengan perubahan yang nyata ini dalam arkus reflex.

Fungsi system saraf otonom dan simpatis mungkin mengalami penurunan secara keseluruhan. Plak senilis dan kekusutan neurofibril berkembang pada lansia dengan dan tanpa dimensia. Akumulasi pigmen lipofusin neuron menurunkan kendali system saraf pusat terhadap sirkulasi.kongesti system saraf diperkirakan dapat menurunkan aktivitas sel dan sel kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan dirinya sendiri.semakin aktif sel tersebut, semakin sedikit lipofusin yang disimpan. Perubahan system neurologis yang normal akibat penuaan diringkas didalam table

TABEL PERUBAHAN NORMAL SISTEM NEUROLOGIS AKIBAT PENUAAN

Perubahan  Normal Terkait Usia Implikasi Klinis
Konduksi saraf perifer yang lebih lambatPeningkatan lipofusin sepanjang neuron-neuron termoregulasi oleh hipotalamus kurang efektif Reflex tendon dalam yang lebih lambat dan meningkatnya waktu reaksi vasokonstriksi dan vaso dilatasi yang tidak sempurnaBahaya kehilangan panas tubu

B.   Patofisiologi Defisit Neurologis

Manifestasi klinis yang berhubungan dengan deficit neurologis pada klien lansia mungkin dipandang dari berbagai perspektif : fisik, fungsional, kognisi-komunikasi, persepsi sensori dan psikososial. Kerusakan tertentu tampak ketika fokal dan system neural didalam otak rusak karena masalah vascular. Manifestasi spesifik pada setiap kategori sangat bermanfaaat dalam mengkaji dan mengembangkan suatu rencana perawatan untuk klien lansia yang mengalami gangguan neuroligis.

  1. FISIK

Dampak dari penuaan pada SSP sukar untuk ditentukan, karena hubungan fungsi system ini dengan system tubuh yang lain. Dengan gangguan perfusi dan terganggunya aliran darah serebral, lansia beresiko lebih besar untuk mengalami kerusakan serebral tambahan, gagal ginjal, penyakit pernafasan, dan kejang. Terdapat suatu pengurangan aliran darah sel saraf serebral dan metabolisme yang telah diketahui. Dengan penurunan kecepatan konduksi saraf, refleks yang lebih lambat, dan respon yang tertunda untuk berbagai stimulasi yang dialami ; maka terdapat pengurangan sensasi kinestetik. Karena perubahan fisiologis dalam system persarafan yang terjadi selama proses penuaan, siklus tidur-bagun mungkin berubah. Secara spesifik, gangguan tidur mempengaruhi 50% orang yang berusia 65 tahun keatas yang tinggal dirumah dan 66% yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang. Perubahan tidur yang diketahui adalah meningkatnya fase laten tidur, bagun pada dini hari, dan meningkatnya jumlah waktu tidur pada siang hari. Hilangnya pengaturan sirkadian tidur efektif yang diketahui berhubungan dengan peningkatan keadaan terbagun selama tidur dan gabungan jumlah waktu terbangun sepanjang malam.

  1. FUNGSI

Deficit fungsional pada gangguan neurologis mungkin berhubungan dengan penurunan mobilitas pada klien lansia, yang disebabkan oleh penurunan kekuatan, rentang gerak, dan kelenturan. Dengan berkurangnya kebebasan gerak, lansia mungkin memiliki kesukaran untuk berdandan, toileting, dan makan. Penurunan pergerakan mungkin merupakan akibat dari kifosis, pembesaran sendi-sendi, kejang dan penurunan tonus otot. Atrofi dan penurunan jumlah serabut otot, dengan jaringan fibrosa secara berangsur-angsur menggantikan jaringan otot dengan penurunan massa otot, kekuatan, dan pergerakan secara keseluruhan, lansia mungkin memperlihatkan kelemahan secara umum. Tremor otot mungkin dihubungkan dengan degenerasi system ektrapiramida. Kejang dapat diakibatkan oleh cedera motor neuron didalam SSP. Kejang yang berat dapat mengakibatkan berkurangnya fleksibilitas, postur tubuh, dan mobilitas fungsional, juga nyeri sendi, kontraktur, dan masalah dengan pengaturan posisi untuk memberikan kenyamanan dan hygiene. Tendon dapat mengalami sklerosis dan penyusutan, yang menyebabkan suatu penurunan hentakan tendon. Reflex pada umumnya tetap ada pada lutut, berkurang pada lengan, dan hamper secara total hilang pada bagian abdomen. Kram otot mungkin merupakan suatu masalah yang sering terjadi. Defisit mobilitas fungsional dan pergerakan membuat lansia menjadi sangat rentan untuk mengalami gangguan integritas kulit dan jatuh.

  1. KOGNISI-KOMUNIKASI

Perubahan kognisi-komunikasi mungkin bervariasi dan berat. Gaya komunikasi premorbit, kemampuan intelektual, dan gaya belajar merupakan data yang penting untuk menyiapkan suatu rencana keperawatan yang realistis untuk klien lansia. Indera kita merupakan hal yang penting dalam komunikasi. Sejumlah hambatan komunikasi mungkin terjadi sebagai akibat dari stroke atau penyakit Parkinson. Perubahan sensasi dan persepsi dapat mengganggu penerimaan pengungkapan informasi dan perasaan. Gangguan pengecapan, penciuman, nyeri, sentuhan, temperature, dan merasakan posisi-posisi sendi dapat mengubah komunikasi yang kita alami. Dengan disorientasi dan konfusi, kesadaran kita terhadap kenyataan menurun secara nyata. Penurunan ini mungkin progresif, permanen, atau temporer, bergantung pada sifat dan tingkat kerusakan cerebral.

Memori mungkin berubah dalam proses penuaan. Pada umumnya, memori untuk kejadian masa lalu lebih banyak diretensi dan lebih banyak diingat dari pada informasi yang masih baru. Deprivasi sensori dapat diakibatkan oleh kerusakan pada pusat cerebral yang bertnggung jawab umtuk memproses stimulus.  Halusinasi, disorientasi, dan konfusi mungkin menyebabkan deprivasi sensori, bukan gangguan kemampuan mental. Sensasi dan persepsi dapat berkurang lebih jauh lagi ketika obat depresan SSP digunakan dalam terapi farmakologis.

Agnosia, afasia, dan apraksia mungkin terlihat pada klien dengan storke atau demensia progresif. Agnosia adalah ketidak mampuan untuk mengenali objek yang umum (sisir, sikat gigi, cermin) dengan menggunakan salah satu indra, walaupun indra tersebut masih utuh. Agnosia penglihatan, pengengaran, dan taktil terkadi ketika ada kerusakan pada lobus parietal dan oksipital, girus presental, daerah perieto-oxipital dan korpus kolosum.

Afasia adalah ketidakmampuan untuk menggunakan kata-kata yang memiliki arti dan kehilangan kemampuan mengerti bahasa lisan. Terdapat disintegrasi fonetik, semantic, atau sintaksis yang diketahui pada tingkat produksi atau tingkat pemahaman dalam berkomunikasi. Afasia mungkin dicerminkan dalam kata-kata klien yang samar-samar, bicara ngelantur, kesukaran dalam berbicara dan kesulitan dalam menemukan kata-kata yang benar untuk menyatakan suatu gagasan.

Apraksia adalah suatu ketidakmampuan untuk menunjukkan suatu aktivitas yang dipelajari yang memiliki fungsi motorik yang diperlukan. Misalnya kesalahan pengguanaan kata-kata dalam menyebutkan hal-hal tertentu dan ketidakmampuan untuk mengenali dan menyebutkan objek umum dan orang-orang yang dikenal. Gangguan citra tubuh, ruang, jarak dan persepsi pergerakan sering terjadi pada orang dengan stroke. klien mungkin mengalami distorsi dalam memandang diri-sendiri dan mungkin mengalami kekurangan kesadaran dalam menggunakan komponen-komponen tubuh tertentu. Karena distorsi cara memandang diri-sendiri  dan anggota tubuh yang tidak digunakan ini, lansia mungkin mengalami cedera, kelemahan, kurang perhatian, dan kurangnya perawatan pada ekstremitas.

  1. PERSEPSI-SENSORIS

Panca indera mungkin menjadi kurang efisien dengan proses penuaan, bahaya bagi keselamatan, aktivitas, kehidupan sehari-hari (AKS) yang normal dan harga diri secara keseluruhan. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)

Meskipun semua lansia mengalami kehilangan sensorik dan sebagai akibatnya berisiko mengalami deprivasi sensorik, namun tidak semua akan mengalami deprivasi sensorik. Salah satu indra dapat mengganti indera dalam mengobservasi dan menerjemahkan ransangan. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001, hal: 179)

  1. Perubahan indera penglihatan

Deficit sensori (misalnya, perubahan penglihatan) dapat merupakan bagian dari penyesuaian yang berkesinambungan yang datang pada usia lanjut, perubahan penglihatan dapat mempengaruhi pemenuhan AKS pada lansia.

Perubahan indra penglihatan pada awalnya dimulai dengan terjadinya awitan presbiopi, kehilangan kemampuan akomodatif. Ini karena sel-sel baru terbentuk dipermukaan luar lensa mata, maka sel tengah yang tua akan menumpuk dan menjadi kuning, kaku, padat dan berkabu. Jadi, hanya bagian luar lensa yang masih elastic untuk berubah bentuk (akomodasi) dan berfokus pada jarak jauh dan dekat. Karena lensa menjadi kurang fleksibel, maka titik dekat fokus berpindah lebih jauh. Kondisi ini disebut presbiopi, biasa bermula pada usia 40-an. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001 hal: 179-180)

Kerusakan kemampuan akomodasi terjadi karena otot-otot siliaris menjadi lebih lemah dan lebih kendur dan lensa kristalin mengalami sklerosis, dengan kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk memusatkan pada (penglihatan jarak dekat). Kondisi ini dapat dikoreksi dengan lensa seperti kacamata jauh dekat (bifokal).

Ukuran pupil menurun (miosis pupil) dengan penuaan karena sfinkter pupil mengalami sklerosis. Miosis pupil ini dapat mempersempit lapangan pandang seseorang dan memengaruhi penglihatan perifer pada tingkat tertentu, tetapi tampaknya tidak benar-benar mengganggu kehidupan sehari-hari.

Perubahan warna (misalnya ; menguning) dan meningkatnya kekruhan lensa Kristal yang terjadi dari waktu ke waktu dapat menyebabkan katarak. Katarak menimbulkan bebagai tanda dan gejala penuaan yang mengganggu penglihatan dan aktivitas setiap hari. Penglihatan yang kabur dan seperti terdapat suatu selaput diatas mata dalah suatu gejala umum, yang mengakibatkan kesukaran dalam memfokuskan penglihatan dan membaca. Kesukaran ini dapat dikoreksi untuk sementara dengan penggunaan lensa. Selain itu lansia harus didorong untuk memakai lampu yang terang dan tidak menyilaukan.katarak juga dapat mengakibatkan gangguan dalam persepsikedalaman atau stereopsis, yang menyebabkan masalah dalam menilai ketinggian, sedangkan perubahan terhadap persepsi warna terjadi seiring dengan pembentukan katarak dan mengakibatkan warna yang muncul tumpul dan tidak jelas,terutama warna-warna yang muda misalnya biru, hijau, dan ungu. Penggunaan warna-warna terang seperti kuning, oranye dan merah direkomendasikan untuk memudahkan dalam membedakan warna. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)

  1. Perubahan indera pendengaran

Perubahan indra pendengaran pada lansia disebut presbikusis. Mhoon menggambarkan fenomena tersebut sebagai “suatu penyakit simetris bilateral pada pendengaran yang berkembang secara progreif lambat terutama memengaruhi nada tinggi dan dihubngkan dengan penuaan”.

Lansia sering tidak mampu mengikuti percakapan karena nada konsonan frekuansi tinggi ( huruf f, s, th, ch, sh, b, t, p ) semua terdengar sama. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001, hal: 180)

Penyebabnya tidak diketahui, tetapi berbagai factor yang telah diteliti adalah ; nutrisi, factor genetika, suara gaduh, hipertensi, stress emosional, dan arteriosklerosis. Penurunan pendngaran terutama berupa komponen konduksi yang berkaitan dengan presbikusis.

Penurunan pendengaran sensorineural terjadi saat telinga bagian dalam dan komponen saraf tidak berfungsi dengan baik (saraf pendengaran, batang otak atau jalur kortikal pendengaran) penyebab dari perubahan konduksi tidak diketahui, tetapi masih mungkin berkaitan dengan perubahan pada tulang telinga tengah, dalam bagian koklear atau didalam tulang mastoid. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)

Kehilangan pendengaran menyebabkan lansia berespon tidak sesuai dengan yang diharapkan, tidak memahami percakapan, dan menghindari interaksi social. Perilaku ini sering disalahkaprahkan sebagai kebingungan atau senil. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, hal: 180)

TABLE PERUBAHAN NORMAL PADA SYSTEM SENSORIS AKIBAT PENUAAN

Perubahan Normal yang berhubungan dengan penuaan Implikasi klinis
PENGLIHATAN-       Penurunan kemampuan akomodasi-       konstruksi pupil senilis

-       Peningkatan kekeruhan lensa dengan perubahan warna menjadi menguning

PENDENGARAN

-       Penurunan fungsi sensorineural secara lambat

Kesukaran dalam membaca huruf-huruf yang kecilPenyempitan lapangan pandangPenglihatan yang kabur

Sensitifitas terhadap cahaya

Penurunan penglihatan pada malam hari

Kesukaran persepsi kedalaman

Kehilangan pendengaran secara bertahap

  1. Perubahan Indera Perabaan

Indera peraba memberikan pesan yang paling intim dan yang paling mudah untuk diterjemahkan. Bila indera lain hilang, rabaan dapat mengurangi perasaan terasing dan memberi perasaan sejahtera. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001, hal: 180)

Kebutuhan untuk sentuhan efektif terus berlanjut sepanjang kehidupan dan meningkat dengan usia. Banyak lansian lebih tertarik dalam sentuhan dan sensasi taktil karena :

  1. Mereka sudah kehilangan orang yang dicintai
  2. Penampilan mereka tidak semenarik pada waktu dulu dan tidak mengundang sentuhan dari orang lain
  3. Sikap masyarakat umum terhadap lansia tidak mendorong untuk melakukan kontak fisik dengan lansia.

Sentuhan dapat merupakan suatu alat untuk memberikan stimulus sensoris atau menghilangkan rasa nyeri fisik dan psikologi.

Kulit adalah seperti suatu pakaian pelindung yang pas dan menutupi seseorang berusia 70 tahun atau 80 tahun, kulit juga tidak akan sesuai dengan tubuh orang tersebut. Kulit tersebut mungkin akan menjadi kendur dan terlihat lebih longgar pada berbagai bagian tubuh. Namun, selama kehidupan, sentuhan memberikan pengetahuan emosional dan sensual tentang orang lain. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)

  1. Perubahan Indera Pengecapan

Ketika seseorang telah bertambah tua, “ jumlah total kuncup-kuncup perasa pada lidah mengalami penurunan dan kuncup pada lidah juga mengalami kerusakan, ini dapat menurunkan sensitivitas pada terhadap rasa. Kuncup-kuncup perasa mengalami regenerasi sepanjang kehidupan manusia, tetapi lansia mengalami suatu penurunan sensitivitas terhadap rasa manis, asam, asin, dan pahit. Perubahan tersebut lebih dapat disadari oleh beberapa orang dibanding yang lainnya.

  1. perubahan Indera Penciuman

penurunan yang paling tajam dalam sensasi penciuman terjadi selama usia pertengahan, dan untuk sebagian orang, hal tersebut akan terus berkurang. Kecepatan penurunan sensasi penciuman pada lansia bervariasi. Orang bereaksi terhadap bau dengan cara berbeda, dan respon seseorang mungkin dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, etnik, dan pengalaman sebelumnya tentang bau tersebut. Sensasi penciuman tidak secara serius dipengaruhi oleh penuaan saja tetapi bisa terjadi oleh factor lain yang berhubungan dengan usia. Penyebab lainnya juga dianggap sebagai pendukung untuk terjadinya kehilangan kemampuan sensasi penciuman termasuk pilek, influenza, merokok, obstruksi hidung, secret dari hidung, sinusitis kronis, kebiasaan tertentu dengan bau/ aroma, epitaksis, alergi, penuaan serta factor lingkungan.

  1. PSIKOSOSIAL

Deficit neurologis yang dapat menyebabkan penarikan diri, isolasi, dan rasa asing mungkin menyebabkan klien lansia lebih bingung dan mengalami disorientasi. Hilangnya fungsi tubuh dan gangguan gambaran diri mungkin turut berperan terhadap hilangnya harga diri klien. Perubahan fisik dan social yang terjadi bersamaan tidak dapat dipisahkan dari perubahan psikologis selama proses penuaan. Sebgai contoh, perubahan organ sensoris dapat menghalangi interaksi dengan lingkungan, serta memengaruhi kesejahteraan psikologis. Status kesehatan umum, factor genetic, dan pencapaian pendidikan dan vokasional juga berpengaruh dalam fungsi psikologis seseorang.

  1. CEREBROVASCULAR ACCIDENT

CVA, atau stroke, merupakan penyebab utama kematian pada 144.070 orang pada tahun 1991, tetap menjadi penyebab kematian utama ketiga di Amerika Serikat. Data statistic dari framington Heart study menunjukkan bahwa insidensi stroke di Amerika Serikat kira-kira 500.000 setiap tahun.

Serangan stroke mungkin terjadi dengan atau tanpa peringatan serangan iskemik temporer (Transient Ischemic Attrack) TIA sebelumnya. Stroke dapat dibedakan antara suatu sindrom dan suatu penyakit. Sindrom stroke disebabkan oleh kelainan pembuluh darah serebra, secara kolektif disebut penyakit serebrovaskuler. Sebagian besar stroke melibatkan distribusi vascular carotid.

Stroke thrombosis sering didahului oleh adanya satu atau lebih TIA. TIA adalah suatu syndrome yang dimanifestasikan oleh awitan nonkonvulsi yang mendadak atau cepat dengan deficit neurologis yang sesuai sengan daerah vaskuler yang diketahui, berlangsung kurang dari 24 jam. Pasein dapat kembali normal kembali. TIA dapat disebabkan oleh berbagai keadaan yang menurunkan sirkulasi darah. Contoh : keadaan tersebut termasuk hiperekstensi, fleksi kepala ketika tidur dikursi, penurunan tekanan darah akibat anemia, obat-obatan tertentu (diuretic dan anti hypertensi), dan merokok.

Jenis stroke yang sering terjadi stroke trombotik, emboli dan hemoragik.

  1. Stroke trombotik dimulai dengan arteroma dan lesi ulseratif didalam pembuluh darah besar serebral. Stroke thrombosis dihubungkan dengan pembentukan plak aterosklerosis, paling sering terlihat dalam cabang pembuluh darah. Suatu pembuluh darah menyempit karena adanya plak yang memperlambat atau mengganggu aliran darah.
  2. Stroke embolik mungkin akan terjadi ketika suatu thrombus terbentuk disuatu pembuluh darah besar dan tiba-tiba pecah, kemudian masuk ke otak. Suatu stroke embolik mungkin mengikuti atau terjadi secara simultan. Penyebab umum stroke embolik adalah suatu mikroembolus yang dibawah keotak sebagai akibat dari fibriasi atrial. Embolus bergerak dan masuk ke system serebral, biasanya melalui arteri karotis. Embolus terus mengalir sampai pembuluh darah terlalu sempit untuk dilalui lebih lanjut, menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan iskemia, yang kemudian menimbulkan terjadinya infark.
  3. Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya suatu pembuluh darah didalam otak, biasanya pembuluh darah bagian dalam. Ada dua kategori stroke hemoragik :
    1. Stroke hemoragik intraserebral adalah perdarah masuk kedalam jaringan otak dari pembuluh darah kecil yang pecah, paling sering kesuatu pembuluh darah yang berpenetrasi dalam
    2. Stroke hemoragik subarachnoid diakibatkan oleh perdarahan yang masuk kedalam ruang subrachnoid, sering ada hubungan dengan pecahnya suatu aneurisma; atau malformasi arteriovenosa. Hal ini menghalangi aliran darah dan darah itu masuk kedalam jaringan.
  4. BAHASA

Kemampuan bahasa pada umumnya tetap utuh dengan keterlibatan hemisfer kiri masalah dalam bahasa dan kemampuan perceptual umumnya meningkat setelah stroke, tetapi pemulihan lebih bervariasi dibandingkan yang dapat dilihat pada fungsi motorik. Ketika menguji bahasa, pengkajian ungkapan lisan, pemahaman bahasa verbal, menamai, membaca, menulis dan mengulang adalah suatu yang sangat penting dalam mengkaji tingkat deficit individu.

Afasia ( baik ekspresif dan reseptif )dapat diakibatkan oleh keterlibatan tubuh bagian kanan.

Afasia ekspresif ( kadang-kadang disebut nonfluentl tidak lancar ) akibat dari kerusakan daerah lobus frontalis, dikenal sebagai area Broca. Kerusakan pada daerah Broca menyebabkan klien mempunyai kesukaran besar dalam berbicara dan sering menggunakan tata bahasa yang salah.

Afasia reseptif (kadang-kadang disebut type lancar atau wernicke) terjadi ketika terdapat cedera pada korteks hemisfer kiri dalam lobus temporalis. Area wernicke terletak diantara korteks auditorius primer dan suatu struktur yang disebut girus angular. Area wernicke sangat penting, tidak hanya dalam berbicara, tetapi juga dalam pemahaman tentang kata-katayang dibicarakan dalam membaca dan menulis.

  1. WICARA

Wicara mengalami perubahan karena terganggunya hemisfer kiri maupun hemisfer kanan. Gangguan akibat kerusakan saraf yang mempengaruhi otot-otot untuk berbicara sering terjadi pada afasia (reseptif, ekspresif, dan global). Disartria termasuk masalah artikulasi. Symbol-simbol (kata-kata) digunakan secara tepat, tetapi bicaranya mungkin berlebihan atau terganggu karena kendali motorik yang lemah.

Deficit dalam berbicara dapat dilihat pada hemiplagia sisi kiri dan sisi kanan. Kesulitan dalam menemukan kata-kata dan disartria terutama sekali dilihat pada keterlibatan tubuh bagian kanan.

Disfagia adalah kesulitan dalam menelan, berhubungan dengan lemahnya kendali motorik pada lidah dan faring. Yang menimbulkan potensi untuk terjadinya aspirasi ketika makan dan menelan. Klien disfagia mungkin juga mempunyai masalah dalam menangani sekresi berlebihan.

  1. PERSEPSI-SENSASI

Persepsi terganggu baik pada hemiplegia bagian kanan maupun kiri. Deficit penglihatan atau kebutaan lapangan pandang pada satu sisi, yaitu sisi yang terpengaruh, yang dikenal dengan hemianopsia dan umumnya mengacu pada defek penglihatan bilateral. Kelainan yang terjadi pada bagian kanan dan kiri dapat terjadi dengan atau tanpa defek lapangan pandang.

Distorsi persepsi ini membuat klien sulit untuk menilai kedalaman dan orientasi vertical dan horizontal dilingkungannya.

Karena dampak negatifnya pada keseimbangan duduk, persepsi visual, mobilitas kursi roda, kesadaran terhadap keamanan, perlindungan kulit dan sendi, dan resiko jatuh, kelalaian hemispasial ( sindrom kelalaian ) turut berperan kearah kecacatan setelah stroke.

10. PERGERAKAN

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, stroke dapat menyebabkan apraksia. Ketidakmampuan klien untuk terus melakukan pergerakan yang dipelajari dan penuh arti seperti makan dan berpakaian dapat menimbulkan frustasi dan depresi seiring dengan perjuangan klien untuk kembali ke keadaannya semula.

11. GAYA TINGKAH LAKU

perubahan gaya tingkah laku sering muncul dalam bentuk peningkatan kelabilan emosional, yang tampak sebagai tawa atau tangisan yang tidak sesuai. Khususnya, pada hemiplegia sisi kiri, klien bereaksi dengan cepat dan imfulsif, sering berlebihan dalam menilai kemampuannya.

Depresi sering kali merupakan komplikasi yang penting dari stroke dan mungkin membatasi keikutsertaan dan hasil psikososial positif dengan cara menghambat motivasi dan inisiatif. Depresi adalah stroke dapat dihubungkan dengan suatu kombinasi baik penyebab organic maupun penyebab reaktif.

12. MEMORI

Memori untuk pembentukan bahasa baru mengalami gangguan pada kerusakan bagian kanan. Ingatan informasi baru adalah tentang lingkungan yang dekat, seperti dimana tempat urinal,

sering terpengaruh pada hemiplegia sebelah kiri.

  1. Pengkajian Holistik

Sercara ringkas pengkajian fisik, fungsional, kognisikomunikasi, persepsi-sensori, dan masalah psikososial memberikan suatu metode yang sistematis dalam mengevaluasi klien lansia kepada perawat.

  1. Penyakit Parkinson

Satu dari setiap 100 orang yang berusia diatas 50 tahun didiagnosi menderita penyakit Parkinson.

Penyakit ini adalah penyakit neurologis yang paling diderita oleh lansia. Dari semua orang yang didiagnosis dengan penyakit Parkinson, 50% berusia lebih dari 70 tahun. Penyakit Parkinson lebih sering terjadi pada pria dan memiliki manifestasi lebih sering dalam decade kelima kehidupan. Empat hipotesis yang menonjol tentang penyebab penyakit Parkinson adalah penuaan yang dipercepat, terpajan zat beracun, predisposisi genetic, dan stress oksidatif.

  1. Pencegahan Yang Dapat Dilakukan
    1. Pencegahan Primer

Penggunaan model promosi, strategi dan intervensi kesehatan dapat diidentifikasi dari sudut pandang fisik, fungsional, kognisi-komunikasi, persepsi-sensori, dan psikologi.

  1. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder berhubungan dengan pengkajia, diagnose, penentuan tujuan, dan intervensiketika deficit neurologis terjadi. Tujuan secara keseluruhan adalah untuk mencegah terjadinya kehilangan kesehatan tambahan dan untuk mengembalikan klien pada tingkat kemampuan berfungsi meraka secara maksimum

  1. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier bertujuan untuk menurunkan efek dari penyakit dan cedera . tahap perlindungan kesehatan ini dimulai pada periode awal penyembuhan. Pengawasan kesehatan selama rehabilitasi untuk meningkatkan fungsi, mobilitas, dan penyesuaian psikososail adalah hasil yang diharapkan dari pencegahan tersier. Hidup secara produktif dengan keterbatasan dan deficit, dan meminimalkan residu kecacatan adalah hasil tambahan yang diharapkan. Pencegahan tersier mempunyai banyak hal untuk ditambahkan pada kualitas hidup dan keseluruhan arti kehidupan yang diyakini oleh klien.

  1. STROKE DAN DEFISIT NEUROLOGIS

Suatu pengkajian yang seksama meliputi riwayat tingkat dan kemampuan fisik, fungsional, kognitif, komunikasi, dan psikososial klien. Dengan kerusakan serebral bagian kiri,klien lansia pada umumnya akan memperlihatkan hemiplegia pada sisi kanan, afasia, disfagia, deficit memori, dan daya tingkah laku yang lambat dan berhati-hati. Seorang lansia dengan kerusakan serebral kiri mungkin akan menunjukkan hemiplegia pada sisi kiri,deficit persepsi ruang, defisit memori , pengabaian secara unilateral, dan impulsive-tas. Emosi yang labil, ataksia, kekakuan, parestasia pada sisi yang terganggu, dan inkontinensia usus dan urine juga merupakan karakteristik cedera serebral.status emosional yang umumnya dimanifestasikan oleh klien adalah depresi, biasanya sebagai respons terhadap kehilangan citra tubuh , fungsi, perubahan peran,dan perubahan dalam susunan biokimia klien.Depresi lebih sering terlihat pada penderita stroke hemisfer kiri dan kanan. Stroke pada hemisfer kanan sering menyebabkan kelabilan emosional, yang dapat berupa mania.

  1. DEFISIT NEUROLOGIS PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT PARKINSON

Klien lansia dengan penyakit Parkinson dapat menunjukkan bradikinesia, kekakuan, hilangnya mekanisme postural,dan tremor. Dapat juga terjadi hilangnya kemampuan rentang gerak sendi dengan fleksi pada leher, panggul, lutut, dan siku, oleh karena itu menjadikan postur tubuh orang lanjut usia bungkuk. Gaya berjalan yang diseret dengan atau tanpa pergerakan yang bersifat propulsive atau retropulsif, tidak adanya ayunan lengan, wajah seperti topeng, mengeluarkan air liur, dan inkontinensia atau retensi usus dan urine juga merupakan karakteristik penyakit Parkinson.

Gangguan kognitif seperti gangguan tidur dan halusinasi penglihatan berkembang menjadi paranoia dan disiorentasi umumnya terjadi pada tahap-tahap lanjut dari penyakit ini. Perubahan konsep diri dan gangguan interaksi sosial sering menurunkan kualitas hidup lansia dengan penyakit Parkinson.Membantu klien untuk memelihara mobilitas optimal dan tingkat fungsional dan membantu klien dan keluarga mengatasi keterbatasan perawatan diri klien dan perubahan peran adalah tujuan yang menantang. tujuan seperti itu memerlukan evaluasi yang bekesinambungan dan pembaruan sesuai berkembangnya gangguan dan kemampuan berfungsi klien memburuk. pengkajian keperawatan neurologis,yang termasuk evaluasi fisik,motorik,dan fungsi sensoris dan psikososial , memberikan data dasar untuk merencanakan perawatan.

  1. REHABILITASI STROKE

Rehabilitasi  stroke termasuk seluruh tujuan dari rehabilitasi lansia. Pencegahan komplikasi dan keterbatasan sekunder adalah hasil utama yang diharapkan. Peningkatan kualitas dan arti dalam hidup dengan keterbatasan dan deficit klien lansia juga merupakan hal yang penting bagi keberhasilan program rehabilitasi stroke.

Aktivitas kehidupan sehari-hari

Selain memposisikan klien dan latihan rentang gerak , suatu program rehabilitasi stroke memfokuskan pada AKS. Aktivitas kehidupan sehari-hari termasuk makan, berdandan, hygiene, mandi, dan yang sejenisnya. Dengan melibatkan ahli terapi fisik dan okupasi dapat meningkatkan kemampuan perawat untuk merencanakan perawatan.

Evaluasi tingkat sensorik motorik , pengukuran rentang gerak sendi , dan kekuatan otot adalah tujuan spesifik bagi ahli terapi dan perawat. Pemeriksaan genggaman , kekuatan trisep, dan keseimbangan memberikan data yang berharga untuk perencanaan strategi kompensasi untuk menyelesaikan tugas tugas perawatan diri. Propriosepsi, sensasi,dan tonus otot dievaluasi. Suatu pengkajian yang seksama juga termasuk tingkat deficit neurologis yang mungkin telah di alami oleh klien akibat stroke. Data tersebut termasuk kemampuan klien untuk mandi, berpakaian, makan, ke toilet, dan berpindah. Selain itu, status fungsi usus dan kandung kemih klien adalah informasi yang sangat penting untuk perencanaan perawatan. Fungsi penglihatan dan pendengaran dikaji dan setiap penyimpangan dimasukkan dalam pendekatan tim.

Ketika pengkajian diselesaikan oleh anggota tim rehabilitasi. Suatu rencana yang mengidentifikasi tujuan spesifik dan bantuan yang diperlukan oleh klien dituliskan untuk mengevaluasi kemajuan. Hasil yang diharapkan harus realistis dan terukur. Tugas-tugas baru harus diperkenalkan, dengan menggunakan petunjuk sederhana dan memberikan satu tugas pada satu waktu, seiring dengan kemajuan klien melalui program terapi membantu klien untuk mempelajari tugas dan keterampilan yang baru. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kemandirian klien dengan terus memberikan peluang untuk melakukan tugas yang mampu ia lakukan. Perawat adalah kunci pemberi perawatan dalam proses rehabilitasi, mengkoordinasikan asuhan perawatan dan terapi rehabilitative. Dengan memperhatikan tujuan ini, perawat dapat memaksimalkan potensi klien tersebut.

  1. Kognisi dan komunikasi

Konfusi, disorientasi, dan maslah komunikasi adalah akibat yang sering dari stroke. Maslah komunikasi dapat diakibatkan oleh afasia dan disartria, perawat perlu menyertakan teknik komunikasi yang memfasilitasi kemampuan klien untuk memahami kata-kata. Teknik komunikasi tersebut meliputi berbicara secara perlan-lahan, memberikan petunjuk sederhana(satu pada satu waktu), membatasi distraksi, dan mendengar secara aktif.Selain itu, menghubungkan kata-kata dengan objek,menggunakan pengulangan dan kata-kata yang banyak, dan mendorong keluarga untuk membawa objek kecil yang dikenal oleh klien dan untuk menyebutkan nama objek-objek tersebut dapat meningkatkan pola komunikasi.Dapat juga digunakan papan abjad,mesin tik,dan program computer untuk membantu pemahaman klien tentang lingkungannya. Mengevaluasi penglihatan dan pendengaran dapat juga membantu mengatasi masalah yang,sekali dapat diperbaiki, secara drastic akan meningkatkan komunikasi.

  1. Dukungan psikologis

Klien lanjut usia mengalami berbagai kehilangan berdasar dengan terjadinya stroke, mencakup perubahan citra tubuh, fungsi tubuh, dan perubahan peran. Dukungan psikologis diarahkan agar dalam menghadapi kehilangan ini dapat mendorong keberhasilan adaptasi dan penyesuaian. Tujuan yang realistis dapat ditetapkan hanya setelah perawat mengkaji gaya hidup klien sebelumnya, tipe kepribadian, perilaku koping, dan aktivitas pekerjaan. Dengan menyediakan situasi untuk penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, perawat member klien suatu kesempatan untuk memperoleh kendali atas lingkungannya. Keadaan seperti itu dapat sederhana seperti membiarkan klien untuk memilih di antara dua aktivitas, untuk memutuskan waktu terapi, untuk memilih pakaian, dan untuk membuat pilihan makanan. Memfokuskan pada kekuatan dan kemampuan klien daripada terhadap deficit dapat mendorong harapan klien tersebut.

Depresi sering terjadi dengan terjadinya kehilangan fungsi tubuh dan perubahan peran dan citra tubuh. Konsultasikan kepada seorang  perawat kesehatan mental untuk membantu mengatasi masalah ini. Klienn lansia mungkin mengalami suatu perasaan isolasi dan pengasingan. Keluarga mungkin memerlukan dukungan emosional dan psikologis ketika berusaha untuk memahami apa arti kehilangan bagi klien. Jika kebutuhan untuk mendapatkan dukungan keluarga ini tidak diperhatikan, klien mungkin mempertimbangkan untuk bunuh diri.Ajarkan anggota keluarga tentang depresi dan peringatkan mereka terhadap tanda dan gejala yang penting dalam memberikan dukungan psikososial.

Kelabilan emosional dan ledakan-ledakan mungkin terjadi setelah stroke. anggota keluarga yang telah diajarkan tentang strategi komunikasi dan bagaimana cara bermain peran dalam situasi yang potensial akan menjadi lebih percaya diri.dalam merawat klien. merujuk keluarga dan klien pada pelayanan pendukung seperti pelayanan kesehatan di rumah, Kelompok pendukung, dan respite care dapat mengurangi beban ketergantungan yang mungkin mengikuti stroke melibatkan manajemen factor-faktor yang pada akhirnya dapat membuat perbedaan dalam memelihara kemandirian maksimum dan menurunkan komplikasi sekunder yang dapat berkembang dari penyakit kronis yang melumpuhkan. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s